Refleksi terhadap Puisi Aus hohen Bergen. — (1886)[1]

Oleh:

Ghost Writer[2]

Sudah lama penulis tidak mencurahkan penafsiran terhadap puisi-puisi Nietzsche. Melalui inspirasi dari beberapa film yang menurut penulis bagus untuk dijadikan perbandingan dalam penafsirannya, maka puisi ini diangkat sebagai bahan pokok tulisan refleksi. Dalam tulisan ini, penulis akan memakai pandangan kaum Derridean. Penulis menganggap bahwa anda yang membaca memahami penuh tentang kerangka pemikiran tersebut. Selain daripada itu, dalam tulisan ini juga banyak proposisi-proposisi yang dibuang atau dihilangkan, analogi filosofis dalam berbagai dimensi yang ditarik dalam keberadaan manusia, dan diharapkan ada dialog dalam diri. Semoga penulis tidak menjebak dalam kesadaran terhadap diri kita sendiri.

Nietzsche yang merupakan filsuf sekaligus sastrawan menuliskan puisi tersebut. Dalam judulnya sudah bisa ditebak bahwa puisi ini tentang kebijaksanaan tertinggi. Sebelum menginjak pada analisis dan refleksi terhadap puisi tersebut, penulis akan mengajak kita berjalan melintasi ruang-waktu seperti halnya Doraemon. Manusia dalam ruang-waktu ialah kebimbangan. Mengapa disebut kebimbangan? Hukum dualisme dalam waktu memang berlaku, seperti hal apa yang kita telah lakukan walaupun satu detik kita tidak akan pernah bisa mengulanginya, dan kita sekaligus tereksploitasi oleh masa depan dengan sedetik ke depan. Diri manusia tidak akan pernah bisa berada dalam satu ruang. Oleh karena itu, manusia terkadang menimbang hal yang terjadi untuk menjadikan bahan pertempuran di masa depan. Tidak aneh, kalau Nietzsche menyatakan bahwa manusia hanya indah dengan romantismenya sendiri. Manusia akan tersenyum dalam kesendirian ketika mengingat kenangan indah dan ingin lebih indah atau terulang kembali entah di waktu mana. Secara tidak langsung kita membuat kenangan tersimpan di depan dan masa akan datang disimpan di belakang? Dalam hal itu saja manusia tidak bisa terbebas. Pikiran yang melekat dalam perasaan sulit untuk move on.

Bahaya dalam keadaan ini, manusia terkadang merasakan jenuh dengan hubungannya. Entah itu dengan keluarga, pasangan sendiri, atau yang lainnya. Karena ada hal yang pernah ia lakukan bersama orang lain, dan itu dijadikan sebuah tolak ukur. Pola pemikiran yang dibentuk dari fenomena saja, manusia hanya mengamini dalam kesesuaiannya. Ketika pemikiran yang didapat tersebut kurang terwujud, maka gundah, marah dan gelisah menjadi hasil akhir dari apa yang ia pikirkan. Namun, dalam keadaan tertentu manusia memikirkan kembali apa yang telah terjadi dan mengantisipasi masa akan datang, Absurd bukan? Kita berada entah di waktu yang mana. Walaupun manusia terobati dengan perkataan-perkataan bijak bahwa, “Hasil tidak akan pernah mengingkari proses”. Paradoks kembali muncul, ketika manusia menjalankan aktivitasnya karena kata bijak, maka ia sendiri seperti halnya anak itik yang baru menetas. Bukankah ia mengingkari bahwa ia telah memiliki bekal dari masa lalunya? Di sini sudah terlihat, dalam diri manusia sendiri ada pengingkaran.

Jika pembaca mencermati tulisan ini, secara tidak langsung ia menilai dan mungkin membantah. Akan tetapi, ada sisi kesadaran yang didapat hingga akhirnya bisa mengamini dan bisa mengingkari. Namun, apapun itu, semua telah terjadi beberapa kali dalam diri kita. Kita memandang orang lain dengan berbekal pengetahuan dari orang lain juga. Terkadang dari sebuah teori dan pembicaraan. Lagi-lagi kita terjebak dengan relasi. Akankah kita bisa menerima bahwa manusia ialah realitas yang terpecah? Ketika misalkan kita berdiam di kamar dan membayangkan orang yang kita cintai. Secara tidak langsung kita telah meniadakan dinding, jendela, dan lain sebagainya. Padahal kamar ialah realitas sesungguhnya. Bagaimana mungkin kita bisa terbebas dari ragam imaji yang memiliki jutaan relasi di dalamnya sendiri? Lebih parahnya ia berprilaku berdasarkan imajinya sendiri. Sehingga imajinasi akan dirinya terus menguat. Kita memilih pengetahuan terkadang yang sesuai dengan kebutuhan, dan yang nyaman dengan diri.

Pengetahuan menurut kebanyakan orang bisa mengenalkan kita pada diri sendiri, dan bisa menjauhkan pada diri kita. Seperti hal pembaca mengamati puisi Nietzsche ini untuk mengenali diri kita sendiri dengan kata-kata aforismanya. Namun, di sisi lain juga penulis mengebiri diri sendiri bahwa kehidupan ini memang terkadang tiada makna, tapi berbeda dalam hal penyikapan. Sisi lain juga penulis tidak akan bisa mengenal diri sendiri tanpa adanya pengetahuan. Keinginan untuk mengetahui makna dari segala hal merupakan jalan awal kita mengenali diri kita. Amarah yang terjadi dari sebuah keinginan akan membalaskan terhadap masa lampau dan akan dilakukan di masa depan ialah ketidakpastian karena kebahagiaan bukanlah diraih dari satu variabel. Kita hanya menikmati proses kekosongan makna. Kita bukan gambaran dari cerita Lord Athlas yang mengisahkan manusia begitu pahit di masa lalu, dan menentukan perubahan di masa depan. Begitu absurd jika masa lalu dan masa depan terhubung dalam satu ranah, di mana diri kita yang tidak pasti. Keberadaan seseorang dan fenomena yang terjadi ialah bentuk dan gambaran dari proses keinginan kita. Kemenangan puncak dalam puisi ini ialah ketika proposisi-proposisi kata dalam kebijaksanaan kata bisa diterima jika kita berada dalam kejenuhan, kekosongan, dan keadaan yang sama dengan kata-kata tersebut. Inilah yang dimaksud oleh Nietzsche, “Die Hochzeit kam für Licht und Finsterniss”. Makna utuh yang dibangun Nietzsche dalam puisinya menunjukkan gambaran terhadap apa yang tertulis dalam refleksi ini. Selamat berpikir ulang!

[1] Puisi ini karya Friedrich Nietzsche

[2] Pengangguran alam semesta di bulan Desember 2015. Penulis akan menjalani aktivitas baru di bulan Januari 2016. Minta doanya ya?

About Falah

Keepsmile and .... and... and....
Aside | This entry was posted in Sastra. Bookmark the permalink.

8 Responses to Refleksi terhadap Puisi Aus hohen Bergen. — (1886)[1]

  1. wah menarik membaca judulnya tentang Nietzsche, btw saya titip jempol dulu…sedang otw…malam nanti saya jalan jalan di blog ini…menarik2 tulisannya saya suka. salam

  2. Falah says:

    Wah terima kasih mas. Sudah lama kita enggak bersua.. ^_^

  3. aih maaf semalam pulang pengajian dari selangor kecapean jam 1…baru buka laptop pagi ini. iya lama sekali..maklum sering pengajian di facebookiyah hehehehe

  4. Falah says:

    Hahaha kirain dimana mas pengajiannya. Asalkan bisa mentransparansi nilai kepada orang lain, kenapa tidak ya mass.

  5. Reblogged this on nanangrusmana's journal and commented:
    Lama tertarik dengan Nietzsche, Filsuf yang juga sastrawan….Kalau Tidak di Reblog, sulit saya baca tulisannya Teman Saya ini… selalu terlewati.
    “Hasil tidak akan pernah mengingkari proses”

  6. Falah says:

    Wah jadi malu mas, ^_^

  7. Pingback: Refleksi terhadap Puisi Aus hohen Bergen. — (1886)[1] – sarahsarce

  8. Pingback: Refleksi terhadap Puisi Aus hohen Bergen. — (1886)[1] – Sarce Sarah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s