Kehaditsan

Mengenai pemalsuan hadits, merupakan suatu kenyataan, namun telah dianalisis siapa sebenarnya pelaku dan telah diadakan penanggulangan oleh para ulama dan kaum muslimin pada umumnya.
Adapun ikhtilaf tentang penerimaan Hadits dan Hadits Ahad sebagai dasar tasyri’ dapat diuraikan sebagai berikut:
 Jumhur ulama berpendapat bahwa hadits Ahad merupakan hujjah yang dapat dijadikan landasan amal walaupun bersifat zhan.
 Ahmad, Al-Mahasibi, Al-Karabisi, Abu Sulaiman, dan Malik berpendapat bahwa hadits Ahad bias qath’i dan wajib diamalkan.
 Kaum Raflidhah, Al-Qasimi, Ibnu Dawud, dan sebagian kaum Mu’tazilah mengingkari hadits Ahad sebagai hujjah.
Alasan penolakan hadits Ahad sebagai hujjah adalah sebagai berikut:
 Hadits Ahad itu bersifat zhan bias mengandung kesalahan, maka tidak dapat dijadikan hujjah. Allah swt berfirman yang artinya: “Janganlah engkau mengikuti apa-apa yang tidak engkau ketahui”. (QS. Al-Isra’ : 36).
 Karena telah sepakat bahwa hadits Ahad tidak dapat dijadikan landasan dibidang Ushul dan Aqidah, maka begitu pula dengan furu’
 Shahabat menolak pemberitaan seseorang, seperti Abu Bakar menolak informasi mughirah tentang warisan nenek moyang dari cucu.
Alasan dan penjelasan dari ulama yang menerima Hadits Ahad sebagai hujjah adalah sebagai berikut:
 Hadits Ahad walupun bersifat zhan, telah disepakati sebagai hujjah untuk masalah furu’ dan menjadi pegangan semenjak masa Nabi SAW dan shahabat, maka dengan ijma’nya bersifat qath’i.
 Qias soal ushul dan furu’ kurang tepat, zhan untuk masalah furu’ bias diterima mengingat kasus fatwa dan kesaksian.
 Nabi SAW menangguhkan penyempurnaan shalat isya karena agu, setelah Abu Bakar dan Umar memberi tahu, baru Nabi SAW berbuat.
 Kasus tersebut bukan berarti Abu Bakar dan Aisyah menolak berita perorangan, namun untuk ikhtiyath dan mencari landasan yang lebih kokoh.
Kenyataan sejarah menunjukkan bahwa para shahabat dan tabi’in menerima hadits Ahad dan mengamalkannya dan banyak hokum disandarkan kepada hadits-hadits Ahad. Jika ada suatu ketika shahabat yang tidak menerima pemberitahuan perorangan hal itu adalah karena ada suatu sebab tertentu.
Para ulama menerangkan tanda-tanda yang sangat perlu diingat agar kita dapat membedakan antara hadits yang maudlu dan yang bukan, mereka membagi tanda-tanda tersebut kepada dua bagian sebagai berikut:
1. Tanda yang diperoleh pada sanad:
a. Perawi itu terkenal pendusta dan tidak diriwayatkan hadits tersebut kecuali oleh dirinya sendiri.
b. Pengakuan perawi sendiri.
c. Kenyataan sejarah mereka tidak mungkin bertemu.
d. Keadaan perawi-perawi sendiri serta pendorong-pendorong yang mendorongnya kepada pembuatan hadits.
2. Tanda-tanda pada matan:
a. Keburukan susunannya dan keburukan lafadhnya.
b. Kerusakan maknanya.
c. Menyalahi keterangan Al-Quran yang tegas, keterangan sunnah mutawatir dan qaidah-qaidah kulliyah.
d. Menyalahi hakikat sejarah yang telah dikenal dimasa Nabi SAW.
e. Sesuai Hadits dengan mazhab yang dianut oleh rawi, sedang rawi itu pela orang yang sangat fanatic terhadap mazhabnya.
f. Menerangkan urusan yang menurut seharusnya dinukilkan oleh orang ramai.
g. Menerangkan suatu pahala yang sangat besar terhadap perbuatan yang kecil atau siksa yang sangat besar terhadap suatu perbuatan yang kecil.
– Sebab-sebab pemalsuan hadits:
a. Perselisihan Politik dalam soal khalifah. Partai politik pada masa itu ada yang banyak membuat hadits-hadits palsu, ada yang sedikit. Yang paling banyak membuat hadits untuk kepentingan golongan adalah partai Syi’ah dan Rafidlah. Ada 2 metode yang dipakai Syiah dalam memalsukan hadits yaitu:
– Memalsukan hadits yang mendukung pendapat mereka seperti keutamaan Ali ra, wasiat imamah (pengganti Rasulullah SAW dan mut’ah). Contoh: Imam Ibnu Hibban dalam kitabnya Al-Majruhin meriwayatkan dengan sanadnya Kholid bin Ubaid Al-Ataki dari Anas ra dari Salman ra dari Rasulullah saw bahwasanya beliau berkata kepada Ali ra:

هذا وصيي وموضع سري وخير من أترك بعدي

Inilah wasiatku tempat rahasiaku dan orang yang terbaik yang aku tinggalkan setelahku.
Ibnu Hibban berkata tentang Kholid bin Ubaid dia meriwatkan dari Anas bin Malik ra nuskhoh (kumpulan hadits yang palsu) orang yang tidak mengenal hadits pun tahu kalau dia palsu (Majruhin 1: 279)
– Memalsukan hadits tentang keburukan musuhnya. Contoh: Imam Ibnu Adi meriwayatkan dengan sanadnya dari Ubbad bin Ya’kub Al-Hakam bin Sohir dari ‘Asim dari Dzar dari Abdullah ra dari Rasulullah SAW berkata:
إذا رأيتم معاوية على منبري فاقتلوه

Apabila kamu melihat Mua’wiyah di atas mimbarku maka bunuhlah ia.

Dalam sanad hadits ini ada dua orang rawi pendusta Ubbad bin Ya’kub dan Al-Hakam bin Sohir.
b. Zandaqah, yang dimaksud dengan Zandaqah ialah rasa dendam yang bergelimang dalam hati sanubari, golongan yang tidak menyukai kebangunan Islam dan kejayaan pemerintahannya.
Mereka mengusahakan tipu dayanya dengan berbagai jalan. Dengan menyisipkan hadits Tasyayyu’ (hadits-hadits yang membangkitkan fanatic kepada seseorang), hadits-hadits TaSAWuf (benci kepada dunia) dan dengan jalan falsafah dan hikmah. Semuanya itu mereka maksudkan untuk menimbulkan kecederaan dan kerusakan dalam perumahan Islam.
c. Ashabiyah, yakni fanatik kebangsaan, kekabilahan, kebahasaan, dan keimanan. Mereka yang fanatic kebangsaan Parsi membuat hadits yang artinya: “Bahwasanya Allah apabila marah menurunkan wahyu dengan bahasa Parsi dan bila Ridla menurunkan wahyu dengan bahasa Arab.
d. Keinginan menarik minat para pendengar dengan jalan kisah-kisah, pelajaran-pelajaran dan hikayat-hikayat yang menarik dan menakjubkan.
e. Ar-Targiib wa Tarhib (Anjuran berbuat baik dan larangan berbuat mungkar ) dari orang sholeh yang bodoh. Contoh : Ibnu Mahdi bertanya kepada Maisaroh bin Abdi Rabbih pemalsu hadits tentang fadhilah Al-Qur’an, dia berkata saya memalsukannya untuk mengajak manusia membaca Al-Qur’an.
f. Perselisihan faham dalam masalah fiqh dan masalah kalam. Mereka yang fanatik terhadap madzhab Asy-Syafi’i berkata yang artinya: “Aku beriman kepada Jibril disisi ka’bah, maka menyaringkan Bismillahirrahmanirrahim”.
– Golongan-golongan orang yang memaudlu’kan Hadits:
a. Zandaqah (orang-orang Zindiq)
b. Penganut-penganut bid’ah
c. Orang-orang yang dipengaruhi fanatic kepartaian
d. Orang-orang yang ta’ashub kepada kebangsaan, kenegerian, dan keimanan
e. Orang-orang yang dipengaruhi ta’ashub madzhab.
f. Para Qushash (ahli riwayat dongeng)
g. Para ahli taSAWuf zuhhad yang keliru
h. Orang-orang yang mencari penghargaan pembesar negeri
i. Orang-orang yang ingin memegahkan dirinya dengan dapat meriwayatkan hadits-hadits yang diperoleh dari orang lain.
– Hukum atas pemalsuan hadits
Pemalsuan hadits adalah mengada-ngadakan dan memalsukan hadits atas nama Rasulullah SAW secara sengaja. Para ulama sepakat bahwa sengaja berdusta atas nama Rasulullah SAW adalah salah satu dosa besar yang diancam pelakunya dengan neraka karena adanya akibat buruk, bersabda Rasulullah SAW:
مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ
Artinya : “Barangsiapa berdusta atas saya dengan sengaja maka tempatnya di neraka” ( Riwayat Bukhari- Muslim)
– Hukum Meriwayatkan hadits palsu
Al-Imam Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ حَدَّثَ عَنِّي بِحَدِيثٍ يُرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبِينَ
Artinya : “Barangsiapa yang menceritakan dari saya satu perkataan yang disangka dusta maka dia adalah salah satu pendusta.”
Jika ancaman ini bagi yang menduga dusta bagaimana kalau ia yakin bahwasanya ia dusta. Maka ulama tidak membolehkan hadits dhaif termasuk palsu kecuali kalau disertai oleh pemberitaan bahwa ia dhaif agar dijauhi hadits tersebut dan waspada terhadap rawi yang dhaif atau pemalsu tersebut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s