Believe loneliness !?

You was created reality by poem.
You teached us about ubermensch
You leaved from world because love.
Nietzsche, about nihilism we cant gone away.
The will to power isn’t answers.
Nothing peace nothing happiness.
Just thinking about our mind is remind.
How to manifestated the ubermensch to this life?
The end i’m just Loving loneliness.
No beyond good and evil
No man can to kill god
Man can to do then make aganist
What isn’t it creazy?
Nothing god can go away from me.
Where is beautiful and bad?
I will Cut beautiful and close bas.
No believing in god, just allah swt in my heart.

Neutron…!?

View on Path

Posted in Keagamaan | Leave a comment

Tuhan kutunggu ijab-Mu dalam sujud malam.
Berserah dalam liku hidup, kubohongi kenyataan.
Tentunya aku menyalahi keadaan, terlebih mengkhianati takdir.
Ampuni aku di bulan Rajab-Mu.
Amien ^_^

View on Path

Posted in Keagamaan | Leave a comment

My best student

View on Path

Posted in Keagamaan | Leave a comment

Gravitasi bukan menjadi alasan bagi manusia jatuh cinta. –
Albert Einstein

View on Path

Posted in Keagamaan | Leave a comment

Irhash Pelangi

Mungkin anda pelangi,
indah kala sururku layu
Tapi percayalah.
Rasaku melampaui Irhash
di batas aneka pelangimu

Posted in Sastra | Leave a comment

Janjimu

Kau berhasil daki gunung dengan seribu janji

menabur harapan kosong di setiap langkah

memotret keindahan kata palsu di pendakian

Continue reading

Posted in Keagamaan, Sastra | 2 Comments

Maret 2015

Kisah ini kuabadikan untuk memberikan sebuah contoh kepada kehidupan selanjutnya. Dimana ada suatu kebiasaan yang dianalogikan kepada sebuah Buah Mangga. Kehidupan pertama ia terasa pahit, kedua asam, dan ketiga manis. Semua itu memberikan sebuah pelajaran dimanakah aku harus berdiam diri. Asam akan sesuai jika orang hamil memakannya di siang hari. Namun, semua itu butuh pengorbanan yang cukup besar. Hidup manusia berhubungan dengan berjuta titik. Titik-titik itu antara lain ialah cinta, kegelisahan, cita-cita, dendam, iri, benci, keinginan, kehendak, kemauan, asal, keabadian, kesukaan, sosial, ilahiyyah, dan lain sebagainya. Terkadang manusia konsentrasi dalam satu bidang saja. Contoh halnya cinta dengan sebuah gegana. Tidak ada hal yang penting selain gegana butuhnya sandaran hati yang mampu membela dirinya sendiri. Sisi lain, bukankah semua itu secara tidak langsung menutup titik-titik yang lain? Sehingga tidak ada keharmonisan dalam hati dan fikirannya sendiri. Bukankah semua itu bentuk kejahatan bagi dirinya sendiri? Continue reading

Posted in Filsafat, Sastra | Leave a comment